untuk (seseorang) yang telus
Kita semakin besar. Keperluan kita semakin besar. Dunia mengecil. Setiap satunya menghimpit kita dengan keras dan tanpa belas. Kita membesar dengan berontak, dimulai dengan rasa ketidakadilan yang terujud oleh keinginan kita sendiri. Mahu kebebasan yang memuaskan, mahu perhatian, mahu sesuatu yang terlarang, mahu mempamerkan bahwa diri kita berhak atas suatu kehidupan yang teratur dan mengatur. Kedewasaan kita lalu mati diracun oleh minda kita yang membentak.
Aku membaca dalam diam dan melihat dengan hati mengomel. Aku menggeleng kepala pada suatu yang orang persetujui. Banyaknya membaca membuatkan kita melihat semakin banyaknya persamaan pada jalur perjalanan kisah-kisah dalam pembacaan kita. Sepertinya aku baru belajar memahami isi kandungan dan memperbanyakan persoalan. Persoalan yang terdiri dari warna, sifat dan gaya yang terangkum dalam bentuk kehidupan. Sayangnya, kehidupan tidak direntas menyamai perjalanan hidup seperti apa yang dibaca. Atau seperti apa yang ditulis oleh diri kita sendiri. Pelik, dalam kita membayangkan kehidupan lain, kita sendiri gagal mendominasi kehidupan kita.
(Kalau) dengan kehidupan kita pada masa lalu tidak memihak dan bersikap adil pada diri kita, apa perlu kita realisasikan pada kehidupan kita pada masa kini dengan bersikap tidak adil atau mengadilinya kepada orang lain? Atas sebab teraniaya kita menganiaya, lalu menyatakan bahwa inilah karma, inilah keadilan. Kemudian, tunggu satu masa, penyataan kita kembali kepada diri kita semula. Seterusnya kita mendengus dengan kata; Ini tidak adil. Putaran itu tidak pernah menjauh dari kita selama kita tidak bergerak.
Kehidupan tidak dibaca dan diadili melalui pembacaan. Kehidupan yang dibaca adalah fiksi yang menipu kita untuk mengatakan inilah realiti. Selebihnya adalah baris-baris kata dalam memperingatkan kita dari sikitnya inti kisah yang tersembunyi.